Menjadi Bab Dari Generasi Sandwich

Posted by Ganas003 on Juli 08, 2019 in ,

MENJADI BAGIAN DARI GENERASI SANDWICH


Setelah milenial dan generasi micin, kini muncul lagi istilah gres "Generasi Sandwich". Maksudnya bukan generasi yang suka makan sandwich, bukan...
Istilah generasi sandwich dipakai untuk menggambarkan orang-orang usia produktif  yang harus menanggung kebutuhan finansial dirinya sendiri, anak, orang tua, serta saudara.

Generasi Sandwich. Gambar dari ReksadanaSAM

Nah, ilustrasinya menyerupai gambar di atas. Fenomena generasi sandwich ini terjadi sebab ketidakmampuan generasi bau tanah untuk mengatur keuangan dan menyisihkan dana pensiun. Jika tidak diperbaiki, akan terbentuk suatu mata rantai yang bebuyutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Yang bau tanah menggencet yang muda. Gitu terus hingga yang masih bocah pun terancam kegencet 😅

Untuk golongan menengah ke atas, fenomena ini mungkin jarang terjadi. Kalau ortunya kaya, nggak mungkin kan bakal bergantung sama anak meskipun udah sepuh. Yang ada malah kadang mereka masih bantu anaknya secara finansial meskipun si anak sudah punya penghasilan sendiri. Lain halnya dengan golongan menengah ke bawah. Rata-rata orang dengan penghasilan minim dan tingkat pendidikan rendah, berprinsip bahwa "sudah sewajarnya anak harus membantu orang tua. Merupakan kewajiban bagi anak yang lebih bau tanah untuk membantu adik-adiknya secara finansial". Ini beneran saya temui dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga saya pun punya prinsip menyerupai itu. Bahkan orang bau tanah saya juga sama.

Kadang berat juga rasanya. Di satu sisi kita perlu memikirkan masa depan sendiri dan di sisi lain ada kebutuhan keluarga yang tidak bisa diabaikan. Please jangan tembak dengan kalimat, "Membantu keluarga itu ibadah loh.. Kalau ikhlas, pahalanya besar banget."
Iya, memang... Membantu keluarga termasuk ibadah dan niscaya pahalanya besar. Apalagi dalam agama saya, diutamakan untuk berinfak kepada orang terdekat terlebih dahulu.

Tapi nganu... Kadang orang bau tanah kurang bijak menyikapi problem ini. Banyak orang bau tanah yang beranggapan bahwa anak yaitu investasi. Maksudnya investasi di dunia. Segala bentuk pengorbanan mental dan fisik, moral dan material yang telah mereka lakukan untuk anak, harus bisa kembali di masa mendatang. Ibarat nanam saham, maka returnnya harus tinggi. Dividennya harus banyak. Ogah banget rugi.

Sebagai pola saya sendiri. Kebetulan saya anak tunggal dari keluarga yang sangat biasa-biasa saja. Bisa dikatakan saya beruntung sebab seluruh perhatian orang bau tanah hanya tertuju pada saya seorang. Tapi hal itu juga sejalan dengan tanggung jawab di masa depan. Ketika saya dewasa, maka hanya ada saya yang harus memikirkan segala tuntutan finansial. Menyokong sebagian dana renovasi rumah, beli kendaraan, kebutuhan konsumsi sehari-hari, dan menanggung biaya hidup orang bau tanah di waktu yang akan datang. Untungnya, saya belum menikah sehingga saya masih bisa fokus.

The sandwich generation. Gambar dari Daily Mail

Mungkin tidak begitu memberatkan jikalau orang bau tanah tidak terlalu menuntut. Kenyataannya, aneka macam orang bau tanah yang secara terang-terangan memperlihatkan bahwa anak harus bisa mengembalikan apa yang sudah mereka berikan dari kecil hingga dewasa. Ibaratnya mereka bilang di depan muka si anak, "Hey! kau itu dari kecil kita kasih makan, kita rawat, kita biayain sekolah. Kita capek-capek cari uang buat ngidupin kamu. Sekarang udah gede, udah lulus sekolah, udah kerja, gantian dong.. Balikin apa yang udah kita kasih."

Jika kebetulan si anak punya rezeki yang cantik dan bisa memenuhi segala kebutuhan keluarga, maka mereka akan gembira dan bahagia. Tapi, dikala si anak MASIH BERJUANG dan BELUM BISA mewujudkan apa yang mereka impikan, mereka akan kecewa dan marah. Sedih nggak sih kalau begitu? Saya tidak mengada-ada atau mendramatisasi sebab dulu saya mengalami itu. Alhamdulillah kini keadaan sudah jauh berubah. Sikap orang bau tanah pun membaik seiring dengan bertambahnya financial support. Hahaha.

Please, don't get me wrong! I'm not blaming parents to rely on their children. Adalah hal yang masuk akal jikalau orang bau tanah berharap anak bisa membantu kebutuhan mereka di hari tua. Yang perlu diperbaiki di sini yaitu perilaku dan cara penyampaiannya. Jadi, sebagai anak yang termasuk dalam generasi sandwich, saya ingin menyuarakan cita-cita anak kepada orang bau tanah :

  • Jangan musuhi anak jikalau anak belum bisa memenuhi semua kebutuhan finansial keluarga
  • Ungkapkanlah cita-cita kepada anak dengan kata-kata dan cara yang bijak
  • Daripada bersikap kasar, lebih baik do'akan biar rezeki anak lancar
  • Ketika anak memberi uang, meskipun jumlahnya tidak banyak, hargailah dengan mengucapkan terima kasih
  • Tidak perlu membanding-bandingkan anak dengan anak lain yang lebih sukses

Intinya, orang bau tanah perlu banget mendukung proses. Jangan cuma mengacu pada hasil. Bantulah belum dewasa yang sedang berjuang dengan menawarkan sugesti positif. Semua anak niscaya ingin membahagiakan dan membanggakan orang tua. Hanya saja, waktu dan rezeki yang didapat belum tentu sesuai harapan.

Untuk millenials, kita yang tingkat pendidikannya lebih baik dari para orang bau tanah jaman baheula, harus bisa bersikap lebih bijak. Singkirkan mental bergantung pada anak (khususnya secara finansial). Boleh menimbulkan anak investasi, tapi investasi akhirat..Hehehe. Jauh lebih penting kan, ketimbang terlalu sibuk mengurus duniawi?


Ciptakan kekayaanmu sendiri. Gambar dari Instagram

Selagi masih bisa bekerja, alangkah baiknya kita menyiapkan bekal finansial buat hari tua. Menabung tiap bulan dan memulai investasi sedini mungkin. Mari hentikan rantai generasi sandwich, sis and bro.. 💪