Ini Lho Hukumnya Jikalau Binatang Ternak Merusak Ladang Orang Lain

Posted by Ganas003 on Juni 02, 2019 in

Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang Lain

Millennial wajib mengetahui ini





Pada kehidupan sehari-hari, terutama bertetangga di tengah masyarakat, acap kali mendapati binatang ternak orang lain memasuki pekarangan orang lain. Seperti halnya ayam peliharaan atau binatang unggas lainnya.

Umumnya para tetangga masih menoleransi akan akhir yang ditimbulkan dari berkeliarannya ayam atau unggas tersebut, selagi tidak menjadikan kerusakan yang cukup berarti.
Dikutip dari laman resmi Nahdlatul Ulama, www.nu.or.id, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jawa Timur, Ustadz Muhammad Syamsudin menjelaskan bila hanya mengotori lantai sebagian tetangga cenderung masih cukup sabar dan akan membersihkannya, tanpa menciptakan keributan yang tidak perlu dengan tetangga lain.

1. Bila tak disikapi dengan arif berujung pada terputusnya silaturahmi atau tali persaudaraan

 Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang Lain Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang LainDok. Balai Karantina Pertanian Balikpapan
Menurutnya, yang kadang menjadikan dilema yakni manakala sang tetangga pada waktu animo tertentu, Ia harus menciptakan pembenihan atau sedang bercocok tanam dan masih membutuhkan perawatan, kemudian tiba-tiba diserang oleh unggas, sehingga sanggup berakibat gagalnya pembenihan atau bercocok tanamnya.
Lebih-lebih lagi, bila pemilik ladang dan pembenihan tersebut kemudian memasang racun atau jebakan yang sanggup membunuh binatang ternak.
Hal tersebut apabila tidak disikapi dengan arif, sanggup menjadikan cekcok antar tetangga. Parahnya sanggup berujung pada terputusnya silaturahmi atau tali persaudaraan.

2. Pemilik unggas wajib mengendalikan unggasnya semoga tidak menjadikan kerugian pada orang lain

 Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang Lain Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang LainANTARA FOTO/Aswaddy Hamid
Agar tetap sanggup menjaga keutuhan tali silaturahmi, tambah Muhammad, berlaku aturan syariat yang menengahi kasus tersebut.
Pertama, bagaimanapun juga pemilik unggas harus berusaha mengendalikan unggasnya semoga tidak menjadikan kerugian pada orang lain. Jangan menjadikan alasan bahwa budbahasa pelepasannya dianggap sebagai sebuah kelaziman. Di dalam kitab Tuhfatu al-Muhtaj disebutkan bahwa:
فَلَوْ اعْتَادَ الطَّائِرُ النُّزُولَ عَلَى جِدَارِ غَيْرِهِ وَشَقَّ مَنْعُهُ كُلِّفَ صَاحِبُهُ مَنْعَهُ بِحَبْسِهِ أَوْ قَصِّ جَنَاحٍ لَهُ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ ، وَإِنْ لَمْ يَتَوَلَّدْ عَنْ الطَّائِرِ ضَرَرٌ بِجُلُوسِهِ عَلَى الْجِدَارِ ؛ لِأَنَّ مِنْ شَأْنِ الطَّيْرِ تَوَلُّدَ النَّجَاسَةِ مِنْهُ بِرَوْثِهِ وَيَتَرَتَّبُ عَلَى جُلُوسِهِ مَنْعُ صَاحِبِ الْجِدَارِ مِنْهُ لَوْ أَرَادَ الِانْتِفَاعَ بِهِ
Artinya: "Andai berlaku kebiasaan seekor unggas terbang dan hinggap pada dinding orang lain dan susah untuk mencegahnya, maka pemilik unggas dibebani kiprah mengurungnya atau memotong sayapnya atau tindakan semisal, meskipun hinggapnya unggas di atas tembok tersebut tidak membawa akhir pribadi pada timbulnya kerugian. Karena bagaimanapun, tingkah polah seekor unggas sanggup menularkan terjadinya najis lantaran kotorannya, dan terkadang lantaran hinggapnya ia di atas tembok, sanggup berakibat pada tercegahnya pemilik tembok dari memanfaatkan tembok yang dimilikinya" (Syihabuddin Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfatu al-Muhtaj ‘ala Syarhi al-Minhaj, Damaskus: Daru al-Fikr, tt.: 23/202).

3. Bila terjadi kerusakan wajib ganti rugi

 Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang Lain Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang LainANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Kedua, tambah Muhammad, bilamana terjadi kerusakan pada harta orang lain akhir unggas yang dimiliki oleh orang tersebut, maka berlaku kesepakatan tempuh risiko alias ganti rugi (dlaman). Hal itu berpedoman dari kitab I’anatu al-Thalibin, sebagai berikut:

وإن كانت وحدها فأتلفت زرعا أو غيره نهارا لم يضمن صاحبها أو ليلا ضمن إلا أن لا يفرط في ربطها وإتلاف نحو هرة طيرا أو طعاما عهد إتلافها ضمَّنَ مالكَها ليلا ونهارا إن قصر في ربطه

Artinya: "Jika watak binatang tersebut dengan sendirinya merusak tumbuhan orang lain atau yang semisal tanaman, dan khususnya bila tragedi itu terjadi di siang hari, maka tidak ada pertanggungan risiko yang dibayarkan oleh pemilik ternak. Akan tetapi, bila perusakan itu terjadi pada malam hari, maka wajib tempuh risiko bagi pemiliknya. Semua ini khususnya bila tidak ada unsur keteledoran dari pemilik binatang dalam mengikatnya (mengendalikannya). Namun, bila perusakan itu dilakukan seumpama oleh seekor kucing piaraan yang memakan burung atau masakan tetangga maka dalam kondisi ini, wajib berlaku tempuh risiko (dlaman) bagi pemiliknya, baik perusakan itu dilakukan di siang hari atau malam hari, khususnya kalau ia sembrono untuk tidak mengikatnya." (Sayyid Abu Bakar ibn Syatha’, Hasyiyah I’anatu al-Thalibin bi Syarh Fathi al-Mu’in, Damaskus: Daru al-Fikr, tt., 4/179).

4. Ada dua jenis binatang piaraan yang berbeda watak

 Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang Lain Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang Lainpexels.com/rawpixel.com
Kutipan tersebut setidaknya menjelaskan bahwa ada dua jenis binatang piaraan yang mempunyai watak berbeda. Ada yang wataknya cenderung merusak bila dilepaskan, ada juga yang wataknya tidak merusak.
Untuk binatang yang mempunyai watak acap kali merusak bila dilepaskan, maka berlaku ketentuan bagi pemiliknya untuk mengendalikannya semaksimal mungkin.
"Bila ternyata ia dilepaskan dan berakibat rusaknya harta benda orang lain karenanya, maka pemilik binatang wajib membayar ganti rugi. Tidak peduli waktu kejadiannya siang atau malam," demikian klarifikasi Muhamamad sebagaimana dikutip IDN Times, Senin (30/9).

5. Jika ada pengabaian wajib tempuh risiko

 Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang Lain Ini Lho Hukumnya Jika Hewan Ternak Merusak Ladang Orang LainANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Lain halnya bila binatang piaraan itu tidak biasa menjadikan kerusakan. Maka berlaku ketentuan, bahwa pemilik hendaknya mengendalikan hewannya pada batas-batas yang memungkinkan tidak timbul kerusakan.
Bila ternyata akhir pengabaian penjagaan itu, kemudian binatang tersebut tandang ke lahan milik orang lain, maka pemilik wajib menempuh risiko (dlaman), khususnya bila hal itu terjadi pada malam hari.

Meski demikian, apabila tragedi terjadi di siang hari, maka dalam hal ini diharapkan tindakan memerinci. Bila tandangnya yakni akhir pengabaian dari sang pemilik (menggampangkan) dalam urusan penjagaannya, maka wajib baginya tempuh risiko.
Akan tetapi, bila sudah dijaga, tapi tanpa disadari ternyata lepas juga dari penjagaan sehingga lari ke ladang orang lain, maka tidak ada tempuh risiko baginya. Karena umumnya di siang hari yakni waktu bagi pemilik lahan untuk menjaga lahan dan tumbuhan yang dimilikinya (Sayyid Abu Bakar ibn Syatha’, Hasyiyah I’anatu al-Thalibin bi Syarh Fathi al-Mu’in, Damaskus: Daru al-Fikr, tt., 4/179).
Semoga klarifikasi tersebut sudah cukup mewakili perihal binatang ternak dan korelasinya dalam hubungan saling bertetangga, untuk pengembangan ke ternak atau masalah piaraan binatang lainnya.